Website Resmi
Desa Gadon
Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora - Jawa Tengah
Administrator | 12 Agustus 2025 | 56 Kali dibuka
Artikel
Administrator
12 Agustus 2025
56 Kali dibuka
Desa Gadon, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, memiliki sebuah masjid yang tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga berdiri kokoh sebagai simbol perjuangan, persatuan, dan kekompakan warganya. Masjid ini diberi nama Masjid Nurul Huda. Bagi masyarakat Gadon, Masjid Nurul Huda bukan sekadar bangunan dengan dinding megah dan kubah yang menjulang, melainkan saksi bisu dari perjalanan panjang penuh pengorbanan. Sejak awal gagasan pendiriannya, masjid ini lahir dari visi besar para tokoh desa yang ingin menghadirkan tempat ibadah yang representatif dan mampu menampung kegiatan keagamaan seluruh warga.
Namun, visi besar itu tak lepas dari ujian. Pada tahap awal perencanaan, masyarakat dihadapkan pada keterbatasan dana, tenaga, dan sumber daya. Meski demikian, hal itu tidak mematahkan semangat mereka. Warga bergotong royong, sebagian menyumbangkan tenaga, sebagian mengumpulkan donasi, bahkan ada yang melepas harta pribadinya demi terwujudnya masjid idaman. Seiring waktu, pembangunan Masjid Nurul Huda menjadi ajang pembuktian betapa kuatnya solidaritas sosial di Desa Gadon. Setiap bata yang disusun dan setiap tiang yang ditegakkan adalah wujud nyata dari kebersamaan. Meskipun rencana awalnya adalah membangun masjid tiga lantai, kondisi di lapangan membuat warga memutuskan untuk meminimalkan menjadi dua lantai, tetapi tetap dengan nuansa kemegahan dan kenyamanan yang diimpikan.
Kini, Masjid Nurul Huda tidak hanya menjadi tempat sholat berjamaah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan, pengajian, dan tradisi seperti nariyahan yang hingga kini istiqomah diamalkan oleh warga sekitar. Keberadaannya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, selama ada tekad, kebersamaan, dan keyakinan kepada Allah.
Dari Lumbung ke Langgar, Lalu Menjadi Masjid
Menurut penuturan Mbah Alwi (Mantan Kepala Desa Gadon), sejarah awal berdirinya Masjid Nurul Huda tidak dimulai dari sebuah bangunan megah, melainkan dari sebuah lumbung padi milik warga. Lumbung itu, yang awalnya digunakan untuk menyimpan hasil panen, perlahan beralih fungsi menjadi tempat ibadah sederhana. Pada masa itu, masyarakat Desa Gadon memanfaatkan apa yang ada, alas seadanya, atap dari bahan tradisional, dan ruang yang terbatas.
Seiring berjalannya waktu, semangat religius warga mendorong mereka untuk mengembangkan tempat ibadah tersebut menjadi langgar atau musholla kecil. Di sinilah aktivitas keagamaan mulai terstruktur, dari shalat berjamaah, pengajian, hingga kegiatan sosial. Atmosfer kebersamaan yang tumbuh dari musholla kecil itu menjadi fondasi kuat bagi pembangunan sebuah masjid yang lebih permanen. Dan Pada tahun 1985, momentum besar pun tiba. Masyarakat memulai pembangunan Masjid Nurul Huda sebagai rumah ibadah yang layak dan kokoh. Sosok sentral di balik gagasan ini adalah Mbah Imam Abu, seorang tokoh sepuh desa yang disegani karena keteguhan iman dan keluasan wawasannya. Beliau memiliki visi yang jauh ke depan: merancang masjid tiga lantai yang memiliki makna filosofis, di mana setiap lantai melambangkan tiga nilai dasar dalam Islam : iman, Islam, dan insan. terinspirasi dari konsep spiritual Sunan Kalijaga.
Namun, kenyataan di lapangan mengajarkan pentingnya kearifan dalam mengambil keputusan. Melihat kondisi finansial dan kemampuan masyarakat saat itu, Mbah Imam Abu bersama para tokoh desa memutuskan untuk menyesuaikan rencana menjadi dua lantai saja. Meski jumlah lantai berkurang, makna filosofis dan fungsi sosial-spiritual yang diusung tetap terjaga utuh.
Dalam proses musyawarah pembangunan, seluruh warga sepakat memberi nama “Nurul Huda”, yang berarti Cahaya Petunjuk. Nama ini bukan sekadar label, melainkan doa dan harapan agar masjid ini menjadi sumber penerangan hati, penuntun moral, dan pusat kegiatan keagamaan yang mempersatukan seluruh lapisan masyarakat Desa Gadon. Kini, Masjid Nurul Huda berdiri bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai jejak sejarah, simbol persatuan, dan bukti kegigihan warga dalam mewujudkan rumah ibadah yang lahir dari gotong royong dan ketulusan hati. dan pada tahun itu juga Masjid Nurul Huda diresmikan oleh KH Nur Khamid dari Desa Wado Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora
Pembangunan masjid ini mendapatkan dukungan besar tidak hanya dari warga setempat, tetapi juga dari para perantau yang masih memiliki ikatan kuat dengan desa. Proposal pembangunan disebar kepada mereka, hingga terkumpul berbagai bentuk bantuan. Salah satu donasi terbesar datang dari Mas Rohmani yang memberikan Rp100 juta, terdiri dari Rp85 juta hasil penjualan mobil pribadinya dan Rp15 juta sebagai sedekah. Selain itu, warga juga mengupayakan berbagai cara untuk mengumpulkan dana, mulai dari wakaf sawah, pengorbanan Kiai Saifuddin yang menggadaikan sertifikat tanah miliknya, hingga aksi kreatif para pemuda yang mengedarkan kotak koin mingguan saat jembatan Ngloram–Gadon putus, menghasilkan Rp1–2 juta setiap minggu. Ibu-ibu tahlilan malam Jumat pun rutin mengumpulkan koin dll. Semua upaya ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan masjid lahir dari semangat gotong royong, pengorbanan, dan kecintaan yang mendalam terhadap kampung halaman
Di balik megahnya bangunan yang perlahan menjulang, ada denyut nadi kebersamaan yang terus bergetar, gotong royong. Dari awal hingga setiap bata terpasang, warga bahu-membahu menyumbangkan apa yang mereka punya. Bambu atau pring dipikul dari pekarangan sendiri, bukan sekadar material, tetapi simbol pengorbanan. Aroma masakan berganti-ganti setiap hari, karena konsumsi tukang digilir antar rumah, sebuah tradisi yang membuat dapur warga ikut berdenyut demi berdirinya rumah Allah.
Pembayaran tukang pun diatur setiap hari. Bukan karena berlimpahnya harta, melainkan agar aliran rezeki tetap terjaga dan tangan para tukang tak pernah berhenti bekerja. Ketika tiba di tahap membangun kubah, para tukang berani mengusulkan sesuatu yang tak biasa: kubah tanpa tiang penyangga. Mereka yakin, bangunan sudah cukup kokoh untuk menahan keanggunan bentuk itu. Biayanya fantastis Rp325 juta. Namun, tekad tak pernah mengenal angka. DP Rp50 juta langsung dilepas, tanda bahwa mimpi ini tak boleh terhenti. Hasil garapan sawah milik Perangkat Desa selama satu tahun dipersembahkan sebagian untuk pembangunan. Dari sudut-sudut desa, sumbangan warga terus mengalir, bagaikan mata air yang tak pernah kering. Setiap lembar rupiah membawa doa, setiap tetes keringat menjadi saksi bahwa masjid ini lahir dari tangan dan hati seluruh warga.
Baik Mbah Alwi maupun Kyai Saifuddin menyampaikan harapan yang sama: agar Masjid Nurul Huda menjadi pusat keislaman dan pembinaan akhlak masyarakat Gadon, tempat yang tak hanya digunakan untuk ibadah, tapi juga pusat pendidikan, pengajian, dan kegiatan sosial Islami.
Sejarah masjid Nurul Huda Gadon adalah kisah tentang iman yang tumbuh dari lumbung padi, berkembang melalui gotong royong, dan menguat karena kekuatan doa. Kini masjid tersebut berdiri kokoh sebagai warisan rohani, bukti nyata bahwa jika niat baik dipadukan dengan usaha dan tawakal, maka sebesar apapun cita-cita, insyaallah dapat terwujud.
Kirim Komentar
Komentar Facebook
Statistik Desa
Populasi
0
Populasi
0
Populasi
0
Populasi
0
0
LAKI-LAKI
0
PEREMPUAN
0
BELUM MENGISI
0
TOTAL
Aparatur Desa
Desa Gadon
Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah
Hubungi Perangkat Desa untuk mendapatkan PIN
Masuk
Menu Kategori
Arsip Artikel
118 Kali dibuka
Wujudkan Sistem Ketahanan Pangan Yang Kuat, Pemerintah Desa Gadon...
97 Kali dibuka
PEMERINTAH DESA GADON REALISASIKAN PKTD UNTUK REHAB DRAINASE...
91 Kali dibuka
Peringati Hari Desa, Pemerintah Desa Gadon, Pendamping Desa,...
85 Kali dibuka
BERSAMA BABINSA DAN BHABINKAMTIBMAS, WARGA DESA GADON GELAR KERJA...
84 Kali dibuka
PENANDATANGANAN AKTA NOTARIS PENDIRIAN KOPERASI DESA MERAH PUTIH...
13 Januari 2026
Sinergi BUMDes, Pemerintah Desa, dan Pendamping Desa Tebar Bibit...
10 Januari 2026
Peringati Hari Desa, Pemerintah Desa Gadon, Pendamping Desa,...
08 Januari 2026
Komitmen Pendamping Desa Mengawal Pembangunan Koperasi Desa Merah...
15 Desember 2025
Pastikan Pembangunan Sesuai Target, Danramil Cepu Tinjau Langsung...
31 Agustus 2025
Lebih dari 1.000 Peserta Jalan Santai Meriahkan Puncak HUT RI...

Komentar yang terbit pada artikel "Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Huda Gadon"